Aku diam saja ketika kau menusuk jantungku tiba-tiba. Tanpa aba-aba, tanpa perintah, tanpa pertanda apapun. Semesta seolah ikut bersandiwara bersamamu. Angin terkekeh geli karena tahu sebentar lagi kau akan menikam jantungku. Waktu hanya menyeringai, meraja, karena dialah pemilik segala rahasia. Dan bunga-bunga yang biasanya selalu setia, hanya diam menunduk tanpa berani menatap mataku. Begitu hebatkah kau?? Sehingga alam raya bersekongkol menghentikan detak jantungku?? Membuatku terbunuh tanpa darah, tanpa rasa.
Tapi bukan berarti hidupku kuserahkan begitu saja. Seperti bait membosankan sepasang kekasih. Aku membiarkan jantungku kau tikam, bukan berarti aku sama seperti dulu. Biarkan saja semesta mendukungmu kali ini..Aku terlanjur kebal dengan kebohongan alur hidup, pun kebohongan hati yang pintar bermain teka-teki.
Aku membiarkanmu menikam, karena aku adalah makhluk tanpa sisa rasa. Hambar. Maka kau kalah. Kau mendengarnya?? kau kalah dalam permainanmu sendiri. Jika sakit yang kau harap, aku terlanjur bosan, dan rasa sakit itu kehilangan perihnya. Jika bahagia yang kau pertaruhkan, ketahuilah bahagia telah kehilangan pesonanya dihari pertama kamu pergi.
Maka jangan datang lagi, karena menikamku disekujur tubuhpun, tak akan membuatku mati.
Tapi bukan berarti hidupku kuserahkan begitu saja. Seperti bait membosankan sepasang kekasih. Aku membiarkan jantungku kau tikam, bukan berarti aku sama seperti dulu. Biarkan saja semesta mendukungmu kali ini..Aku terlanjur kebal dengan kebohongan alur hidup, pun kebohongan hati yang pintar bermain teka-teki.
Aku membiarkanmu menikam, karena aku adalah makhluk tanpa sisa rasa. Hambar. Maka kau kalah. Kau mendengarnya?? kau kalah dalam permainanmu sendiri. Jika sakit yang kau harap, aku terlanjur bosan, dan rasa sakit itu kehilangan perihnya. Jika bahagia yang kau pertaruhkan, ketahuilah bahagia telah kehilangan pesonanya dihari pertama kamu pergi.
Maka jangan datang lagi, karena menikamku disekujur tubuhpun, tak akan membuatku mati.
No comments:
Post a Comment