Nusantara
Wednesday, April 17, 2013
Sunday, April 14, 2013
Luffiess.. :)
Seperti cinta, ia datang tanpa direncanakan, tanpa disadari kita terikat sendiri. Tidak usah melakukan apa-apa, karena semesta seolah bergerak, menarik kita terjebak, mengikat kita kuat-kuat, sehingga akhirnya kita tidak ingin lepas. Aku beruntung Luf datang saat aku berada dalam masa pencarian jati diri. Peralihan antara bocah kecil menuju remaja :) Sangat beruntung, karena keberuntungan yang tidak bernilai adalah menemukan sahabat. Sahabat seperti mereka :)
Luffiess
Luffiess
Friday, April 12, 2013
Wanita ( bukan ) basa-basi
Lemah menua takdir usia
Tertatih rintih perjalanan asa
Ia disana, tetap menatap lekat rapat
Pada matahari angkuh
Pada dingin angin menggigit
pada kerikil debu dekil
Benar saja !
Ia bukan wanita basa-basi
Seperti sahdu gita yang tak lekang
Selembut hangat senja peluk malam
Sudahi pedih peri
Mendekap derai damai rintik pagi
Friday, April 5, 2013
Mutiara di dalam Pasir
Aku sudah lama mengenal Adam, anak
kecil berumur delapan tahun yang tinggal bersebelahan dengan rumah nenekku di
kampung. Setiap setahun dua kali aku dan keluarga berkunjung ke rumah nenek, di
hari Lebaran dan liburan sekolah akhir tahun, karena itu aku sering melihat
anak kecil periang itu. Adam yang aku kenal adalah anak lelaki bertubuh kurus
dan berkulit hitam. Matanya bulat besar sehingga wajahnya semakin terlihat
tirus dan kecil. Alis matanya tebal dan senyumnya lebar. Suara Adam juga
nyaring, aku sering mendengarnya ketika ia tertawa terbahak-bahak atau ketika
ia berjualan keliling kampung.
Adam sering berjualan apa saja,
terkadang ia menjual kue-kue, kemudian menjual ikan, menjual es, menjual
sayuran, menjual mainan, menjual sendok dan garpu, menjual buah-buahan, dan
jika tak ada yang bisa dijual, ia akan menjual suaranya yang nyaring dan bagus itu,
bernyanyi keliling kampung.
Karena itu Adam terkenal, semua
orang di kampung mengenalnya, anak lelaki yang selalu kelihatan hidup dan penuh
semangat. Begitu juga aku dan keluargaku yang hanya sesekali berkunjung ke
kampung, jika aku sampai di rumah nenek, maka aku tak akan lupa menanyakan Adam
dan ibunya. Bagaimana kabar mereka? Adakah cerita baru tentang Adam? Apakah ia
menjadi gemuk? Apakah tawanya semakin keras? dan apakah ia masih sering
bernyanyi keliling kampung dengan tabuhan alat musik kayunya?
Semua tentang Adam menarik
perhatianku. Juga sekarang, ketika hari ini hujan lebat mengguyur kampung,
anak-anak kecil berlari-lari dibawah hujan dengan hanya memakai celana pendek.
Adam ada diantara mereka, berlari-lari sambil tertawa, sesekali ia
melompat-lompat diatas air sehingga cipratan-cipratan air membasahinya dan
teman-temannya. Mereka kemudian saling mendorong hingga terjatuh diatas lumpur,
kemudian tertawa-tawa lagi, dan bekejar-kejaran. Aku ikut tertawa melihat
tingkah mereka yang begitu riang dan bebas, apalagi ketika Adam mulai menyanyi
dan memasang aksi seolah ia memainkan gitar, tingkahnya benar-benar lucu. Aku
sampai betah memperhatikan mereka dari teras rumah nenek yang terlindung dari
hujan. Ingin rasanya aku ikut bermain dengan anak-anak kecil itu.
Awalnya aku tidak setertarik ini
dengan Adam, anak kecil yang tinggal dengan ibunya di gubuk bambu mereka itu
hanya kuanggap tetangga biasa. Apalagi aku yang jarang datang kerumah nenek,
membuat tiap kejadian dalam hidup Adam dan ibunya bagaikan angin lewat saja,
tak berarti apa-apa. Tetapi kemudian, dua tahun lalu, di suatu hari ketika
matahari sore bersinar hangat, aku melihat Adam sedang duduk diatas dipan
bambu, dibawah pohon jambu air yang ada didepan rumahnya. Pohon itu berdaun
sangat rindang, angin sore membuat daun-daunnya tertiup bergerak, dimataku
daun-daun itu seperti menari mengikuti irama ketukan-ketukan tangan kurus Adam
diatas gendang kecil dari kayu.
Aku memperhatikan tingkah Adam dan
ikut menikmati irama musiknya yang lumayan menyenangkan. Semalam tanpa sengaja
nenekku bercerita tentang Adam yang yatim, ayahnya meninggal ketika ia masih
berumur 4 tahun. Sedangkan ibunya sudah lumayan tua karena menikah diusia yang
tak muda. Adam kecil tumbuh dengan rasa prihatin yang tinggi, ia begitu peduli
dengan ibunya, karena itu ia tak segan-segan bekerja apa saja untuk membantu meringankan
beban orang tuanya. Walaupun begitu, ia tak pernah terlihat sedih, kehidupan
dan kerja keras dijalaninya dengan tawa lepas dan polos khas anak-anak. Ia
bebas dan bahagia. Begitu aku menilainya.
Karenanya disore hari itu aku
menghampirinya untuk pertama kali. Umur Adam masih 6 tahun saat itu. Ia
mengenakan kaos biru kebesaran dan celana pendek hitam. Aku duduk disampingnya
dan tersenyum.
“Berlatih, Dam?”, aku memulai obrolan.
Adam menoleh dan nyengir lebar. Ia menghentikan
ketukan-ketukan iramanya diatas gendang kayu, “Iya kak, Adam mau nyanyi
keliling kampung. Kakak namanya kak Aisyah, ya?”
Aku mengangguk. Umurku dan Adam berbeda 9 tahun.
“Mainkan saja lagi, kakak senang mendengarnya”, ujarku. Adam tersenyum dan
mulai memainkan alat musiknya lagi, sebuah gendang kecil dari kayu. Kali ini ia
tak hanya bermain musik, tetapi juga bernyanyi pelan-pelan. Walaupun pelan aku
bisa mendengar kemerduan suaranya.
“Adam tak pernah sedih, ya?”, tiba-tiba aku
bertanya. Tetapi kemudian merasa bahwa pertanyaanku terdengar aneh.
“Mmm..maksud kakak...”, sambungku bingung untuk menjelaskan.
“Mengapa harus sedih?”, Adam balik bertanya. Seperti
dugaanku, pertanyaanku yang asal itu pasti membuat orang lain bingung. Aku tak
bisa menjawab pertanyaan Adam.
“Ibu Adam bilang, kita tidak boleh sedih karena
sedih itu tandanya tidak bersyukur”, anak kecil umur 6 tahun itu menjelaskan
kepadaku dengan gaya polosnya. Aku yang sudah dewasa berumur 15 tahun saat itu,
tertarik dengan keluguannya.
“Trus ibu Adam bilang apa lagi?”
Adam terlihat berpikir, kemudian katanya, “Ibu
bilang, manusia itu makhluk ciptaan Allah paling istimewa, karena itu Allah
sangat sayang dengan manusia, makanya kita tidak boleh sedih”. Aku mengangguk,
Adam terlihat berpikir-pikir lagi, matanya yang bulat melihat keatas.
“Ibu juga bilang, setiap yang diciptakan Allah punya
keistimewaan dan tujuannya masing-masing. Walaupun ia hanya sebutir pasir”.
Kata-kata yang indah, walaupun keluar dari mulut seorang bocah, tetapi
terdengar begitu berharga bagiku.
“Kakak tunggu disini, ya..Adam punya sesuatu”, ujarnya
tiba-tiba. Aku mengangguk dan melihatnya berlari masuk kedalam rumah gubuknya.
Beberapa menit kemudian ia keluar sambil tersenyum lebar, gigi-giginya yang
putih terlihat. Ditangannya ada sebuah majalah.
“Kakak lihat ini! Bagus, kan??”, tanyanya sambil menyodorkan
majalah itu kepadaku. Aku memperhatikan gambar yang ia tunjuk, sebuah gambar
dari bebatuan bumi yang berwarna-warni. Batu-batu itu terlihat bertumpuk dan
berkilat, ada warna hitam, kuning, putih, orange dan pink. Ketika aku membaca
penjelasan dibawahnya, betapa terkejutnya aku, ternyata itu bukan bebatuan
mulia seperi yang aku kira, melainkan pasir yang telah diperbesar sebanyak 110
kali dengan menggunakan mikroskop Edge 3D. Benar-benar menakjubkan!
“Kakak lihat, kan..ternyata pasir yang kecil itu
sebenarnya sangat indah, tetapi kita tidak bisa melihat keindahan itu dengan
mata kita, harus dengan bantuan alat. Ibu Adam bilang, kalau kita melihat semua
yang ada dibumi ini dengan mata saja, itu tidak cukup, kita juga harus
menggunakan otak dan hati agar semuanya terlihat indah”.
Aku tercengang mendengar ucapan Adam. Ia sangat
cerdas, semua yang diucapkan oleh ibunya ia dengarkan dan pahami baik-baik. Tak
hanya itu, ia mampu merealisasikannya dalam setiap gerakan hidupnya. Adam
benar-benar anak yang luar biasa. Terjawab sudah rasa penasaranku sejak nenek
bilang Adam adalah juara kelas yang sangat pintar. Ternyata benar, anak yatim,
miskin dan berkulit hitam ini memang seperti mutiara yang bersinar diatas
tumpukan pasir kesulitan yang dihadapinya. Ia adalah mutiara yang cahayanya
mampu menyinari dirinya sendiri dan orang lain disekitarnya.
“Karena itu, kak..semua kesulitan di hidup kita juga
pasti ada keindahannya, jadi tak ada yang tak bisa disyukuri. Ibu Adam bilang,
kesulitan hidup itu seperti pelajaran, saat kita menghadapinya, kita mendapat
ilmu baru. Ia seperti mutiara yang ada didalam tumpukan pasir, tugas kita
adalah mencarinya”
Aku masih tak mampu berkata-kata lagi, sedikit tak
yakin bahwa kata-kata itu keluar dari mulut seorang anak berumur 6 tahun. Adam
pasti meniru dengan baik kata-kata ibunya. Tetapi yang paling menakjubkanku
adalah sikapnya yang bisa mengambil hikmah mutiara dari tiap kejadian hidup
yang ia lewati. Sungguh, aku terpesona dengan anak kecil kurus berkulit hitam
ini.
Maka mulai hari itu dan seterusnya, kisah hidup Adam
adalah kisah yang selalu aku nanti-nantikan untukku dengar, dan melihat tawanya
adalah hiburan paling kurindukan ketika berada di kampung nenekku. Maha suci
Allah, aku begitu bersyukur bisa mendapat pelajaran hidup dari anak kecil
bernama Adam. Semoga Allah terus menjaganya dan membuatnya tetap kuat dan
bahagia seperti saat ini.
Thursday, February 7, 2013
Nyanyian Langit
Ada seseorang yang begitu egois. Yang keegoisannya berhasil menyita hampir seluruh perhatianku yang begitu berharga, bahkan untuk namanya saja. Aku mengenalnya penuh kesan misterius, di sebuah rumah makan yang salah satu ruangannya sengaja di pesan direktur majalah tempatku bekerja. Hari itu memang spesial, karena baru pertama terbit, majalah kami telah menyita perhatian pasar, dalam hitungan hari, puluhan eksemplar telah terjual habis. Bahkan ada beberapa pesanan dan permintaan untuk menjadi pelanggan tetap majalah kami. Membanggakan bukan..?!
Sebenarnya majalah tempatku bekerja
bukanlah majalah baru. Buktinya aku sudah setahun bekerja disana. Tahun lalu
aku berprovesi sebagai reporter, sekarang aku menjabat sebagai sekertaris
redaksi. Yang baru adalah krunya..para
reporter muda yang baru saja bergabung dan memberi warna baru. Baiklah,
tak hanya satu warna yang mereka
berikan..tapi luapan ide-ide warna-warni pelangi. Selalu mengalir seiring
nama-nama yang mereka sebutkan saat berkenalan denganku. Wajah-wajah cerdas dan
lugas, sangat kritis dengan ide-ide logis yang fantastis. Aku merasa ribuan
semangat menyengat sel-sel kulitku saat berbincang dengan mereka. Kecuali satu
orang !
Namanya saja baru aku dengar malam
itu ! saat semua elemen yang berperan di setiap baris kata di majalah kami
telah berkumpul dan merayakan kemenangan penerbitan pertama untuk tahun ini.
Baiklah, Aku memang tidak menyertai kru-kru baru itu sejak awal pengangkatan
mereka, tugasku di luar negri membuatku baru bisa bergabung setelah penerbitan
pertama ini selesai. Aku yang mendengar kabar gembira itu langsung menghubungi
pimpinan redaksi dan meminta kiriman nama-nama reporter baru tersebut beserta
data diri mereka. Aku mengecek nama mereka satu persatu dan mengira-ngira,
siapa saja yang telah ku kenal atau mengenalku. Seluruhnya telah mengenalku
sejak mereka di angkat seagai reporter tetap di majalah kami. Melalui jejaring
facebook, mereka mengenalkan diri dan perbincangan-perbincangan mengalir deras
begitu saja. Sehingga, ketika malam hari itu, saat aku telah bergabung kembali dan
akhirnya berkesempatan bertemu secara real dengan mereka, perkenalan kami
terasa tak asing. Seperti seorang kakak yang bertemu dengan adiknya sepulang
sekolah. Kecuali satu orang!
Dia duduk di sudut, kami memang duduk
melingkari meja yang disatukan agar 30 orang bisa duduk bersama disana. Makanan
telah terhidang dan tawa-tawa kemenangan terdengar mengimbangi
kritikan-kritikan cerdas dari mulut-mulut jurnalis muda itu. Aku mengikuti
setiap perbincangan sambil tertawa. Sedikit menyesal, karena tidak perperan banyak dalam penerbitan membanggakan itu, kecuali
satu kolom tulisanku yang membahas tentang sastra tanah air. Aku hampir saja
tak menyadari keberadaannya jika pemimpin redaksi, pak Harry, tak berbicara.
“Dengarkan..saya ingin memberikan
apresiasi tinggi untuk penulis liputan
khusus kita, pasangan Sora dan Donny..!”, ujar pak Harry, pimpinan yang sudah
ku anggap sahabat bahkan kakak sendiri.
Tepuk tangan bergemuruh. Celetukan
terdengar, “ Ada yang perhatiin ga sih? Sora dan Donny pakai baju dengan warna
sama malam ini..!!”
Tawa terdengar barsahutan, Donny,
pria berkulit putih yang semakin tampan dengan kaca matanya tergelak. Aku sudah
membaca liputan khusus yang dimaksud Harry, tapi kurang memperhatikan penulisnya.
“Tenang saudara-saudara, ini hanya
kebetulan..tapi saya ingin sedikit menyampaikan ucapan terima kasih juga untuk
Sora..”, Donny berdiri dan menghadapkan
tubuhnya kearah sudut kanan. Aku mengikuti gerak badannya dan melihat wajah
asing disana. Wanita berbaju coklat muda dengan jilbab senada.
“Sora, senang bekerja sama dengan
anda..”, ujar pemuda berkaca mata itu sambil membungkukkan badan. Tingkahnya
yang berlebihan membuat suasana semakin riang. Wanita yang dipanggil Sora
tersenyum.
“Sebenarnya saya lebih pantas meminta
maaf dari pada dipuji seperti itu..kamu tahu, terlambat datang saat wawancara
tidak mencerminkan sifat sejati seorang reporter”, ujarnya.
Ucapannya disambut tawa oleh yang
lain. Donny tersenyum lebar dan tampak ingin berbicara lagi. Tapi pak Harry
lebih dulu mengambil alih.
“Kalian mungkin belum tahu, karena
ini rahasia..”, ia tergelak. “Tulisan Donny dan Sora dibaca oleh Mentri Luar
Negeri dan beliau menelponku langsung..”, Ruangan lansung ramai dan semua
perlahan menajamkan telinga, aku melihat wajah-wajah antusias di ruangan itu.
“Kalian tahu apa yang beliau
katakan?”, pak Harry sengaja mengambil jeda. kemudian lanjutnya setelah ruangan
itu benar-benar tak bergerak, “Katanya..kalian sangat berani, lanjutkan berita
ini dan jika hasilnya bagus, aku undang
kru majalahmu ke kantor ”
Ruangan seketika hidup oleh tepuk
tangan. Aku sampai merasakan desiran darahku sendiri. Donny menerima salam
selamat dari kru-kru yang lain. Bahkan Sora, menerima pelukan dari reporter
wanita disampingnya.
“Donny..Sora..kalian harus siap
melanjutkan tulisan kalian untuk edisi selanjutnya”, Pak Harry melanjutkan. Ini
perintah.
“Siap boss..!”, Donny menyahut. Sora
lagi-lagi hanya tersenyum.
Aku menyalami pak Harry dan menanyakan
alasan kenapa Mentri Luar Negeri bisa begitu tertarik dengan laporan ini.
Matanya membulat dan berbisik, “aku kurang yakin, tapi kurasa ada berita yang
sebenarnya sensitif dan masih absurd, kurasa pak Mentri punya pendapat pribadi
dan ingin meyakinkan pendapatnya itu. Dan itu hanya bisa diketahui kebenarannya
jika tulisan ini rampung. Kita lihat saja nanti..”, ia mengedipkan mata.
Aku mengerutkan keningku, kedengaran
menarik dan penuh tantangan. “Siapa penulisnya? Donny atau Sora?”.
“Donny”, ujar pak Harry sebelum
meminum jusnya. “Tetapi data-datanya ia kumpulkan bersama Sora, dan aku tak
tahu data mana yang berhasil mengusik isi kepala Mentri kita itu”
Aku mengangguk-angguk. “Oya,apakah
Sora baru masuk setelah yang lain resmi diangkat? Kenapa namanya tak ada di
list ?”, tanyaku.
Pak Harry tampak bingung, “Benarkah ?
Kurasa semua data telah aku kirimkan. Kamu cek ulang saja, mungkin namanya
terlewat oleh matamu”.
Aku mengeluh tak yakin, merasa
kinerjaku dipertanyakan. Sebagai sekertaris redaksi aku tak bisa menganggap
omongan itu sebagai kalimat asal lewat. Akhirnya aku membuka data di laptopku
dan membuka dokumen berisi data-data semua kru. Benar saja, tak ada nama Sora
disana. Merasa menang, ku tunjukkan data-data itu kepada pak Harry. Ia
memperhatikan dan kemudian tertawa sambil menepuk pundakku.
“Aku yang salah..datanya ternyata tak
terkirim, kamu bisa ambil di kantor kapan saja”, ujarnya tanpa mrasa bersalah.
Melihat tampangku yang tak puas ia melanjutkan, “Lagipula data sekarang itu
sudah tak begitu penting lagi, kamu bisa berkenalan dengan Sora tanpa harus
membaca data dirinya dulu, kan?”, lanjutnya sambil nyengir lebar.
Aku hanya tersenyum tak menanggapi,
kemudian mataku mengarah ke sudut kanan ruangan. Wanita itu sedang berbincang
dengan reporter lain di sebelahnya. Aku yakin, tak lama lagi dia akan mengenalkan dirinya kepadaku. Harus ku akui,
malam ini, sebelum pengumuman tentang keberhasilan tulisannya, kehadiranku juga
menyita perhatian karena Pak Harry telah terlebih dahulu menceritakan semua
tentangku kepada para reporter baru itu.
Tetapi menjelang akhir acara. Saat
satu persatu mulai berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri pak Harry
sebagai pemimpin redaksi, aku, para redaktur ahli, pimpinan umum, pimpinan
usaha, dan editor untuk berpamitan. Aku merasa kecolongan. Wanita itu sudah
raib dari tempat duduknya. Ia telah pergi tanpa berpamitan. Tidak sopan sekali
!
Sesampainya di apartemenku, aku
langsung shalat isya dan duduk di depan laptop. Tak bisa ku percaya, aku
membuka facebook malam-malam di waktu tidur untuk mencari akun seseorang!
Menggelikan..tapi toh akhirnya tetap ku cari namanya di daftar teman-teman
milik Donny, aku sengaja memilih akunnya karena milik pak Harry akan lebih
membingungkan dengan daftar temannya yang begitu banyak.
Tetapi aku tak mendapatkannya. Nama “Sora”
memang ada, hanya tak satupun berwajah mirip
dengan wanita berkerudung coklat itu. Karena penasaran, aku membuka
laman akun Donny sampai jauh dan memperhatikan semua postingan di dindingnya.
Sambil membuka profil orang-orang yang muncul disana. Tak berhasil. Aku
akhirnya membuka satu persatu note yang ditulis lelaki itu, bukan untuk
membacanya. Melainkan memperhatikan para pemberi komentar.
Akhirnya jam menunjukkan angka 2 dini
hari. Aku tergeletak di tempat tidurku setelah merasa begitu bodoh. Kenapa aku
tak mencoba sedikit sabar. Bukankah besok aku bisa melihat data pribadi wanita
itu di kantor redaksi dengan mudah ??? Sial..!
Esoknya aku
sampai di kantor tepat jam 8 pagi. Aku berulang kali mengatakan kepada diriku
sendiri untuk bersabar, tetapi kakiku bergerak lebih cepat. Aku merutuk dalam
hati. Dan sekarang, aku telah duduk manis di meja kantor. Ruangan ini baru,
sesuai dengan jabatanku yang juga baru. Kemarin meja kerjaku di ruangan depan,
berbaur dengan para reporter lain. Tetapi sekarang, ruanganku berada di sebelah
ruangan pak Harry. Beliau sedang berjalan bolak-nalik di ruangannya sambil
berbicara melalui telepon. Sebuah kebiasan yang tak pernah hilang. Para
reporter lain telah datang dan menyapaku ramah, aku hanya tersenyum dan
berjalan cepat ke ruanganku. Yah begitulah yang kurasa, berjalan cepat!
Anehnya, aku
hanya termangu-mangu di depan komputer. Merutuki diri karena merasa begitu
bodoh. Tapi tak lama, dokumen berisi data-data itu aku buka dan disanalah !
Data diri seseorang yang membuat waktu tidurku berkurang tadi malam.
Aku
membacanya dengan teliti. Tentu saja, teliti adalah tuntutan profesiku. Ketika
seorang office boy mengetuk pintu ruangan sambil membawa capucinno hangat.
“Pak Rio,
ini minumannya”
Aku tersadar
dan memberi isyarat agar ia menaruh minuman itu di mejaku, “Terima kasih,
Man..”, ujarku padanya. Namanya Lukman, kami telah kenal dekat tetapi ia selalu
memanggilku dengan ebel-embel pak, membuatku merasa lebih tua saja.
“Hehe..pak
Rio suka dengan mbak Sora, yah?”
Kata-kata
itu membuat aku terperanjat. Lukman ternyata telah berdiri di sampingku sambil
tersenyum-senyum.
“Kamu..bikin
kaget saja, aku sedang membaca data para reporter baru itu. Kamu kan tahu, aku
baru datang dan ini hati pertamaku masuk kantor lagi. Jangan bikin kesimpulan
yang aneh-aneh”, ujarku sedikit khawatir.
Lukman hanya
nyengir, “Yaah..siapa tahu bapak termasuk jajaran pemuja rahasia mbak Sora,
hehe..”
“Apa maksudmu
? termasuk jajaran...apa??”, tanpa sadar aku terpancing.
“Pemuja
rahasia, pak. Secret Admirer..”, ulangnya. Bahasa Inggris dengan logat Jawanya
terdengar menggelikan, “Aku tahu..sudah lima orang yang mengaku begitu. Yang
terang-terangan sih, bisa bapak perhatikan sendiri, hehe..”, ia terkekeh.
Bibirku
mengambil gerakan sinis. “Tidak penting, Man..aku tak tertarik dengan urusan
seperti itu”.
Lukman
akhirnya menganguk-angguk, “Yah..keajaiban mungkin, bisa membuat bapak jatuh
cinta”, ujarnya terdengar putus asa seolah aku adalah robot tanpa hati. Ia
kemudian pamit dan keluar dari ruanganku.
Aku
terhenyak di tempat duduk. Ucapanku tadi, juga tanggapan Lukman, seolah
mengembalikanku ke duniaku sebenarnya. Kembali kepada siapa aku selama ini. Aku
tak ingat kapan terakhir aku jatuh cinta dengan seseorang, juga kapan terakhir
aku mau membuka sedikit ruang untuk itu.
Ekor mataku
menangkap gerakan seseorang berbaju biru yang berjalan di sisi kanan ruanganku.
Jilbab birunya bergerak seiring gerakan langkah kakinya. Kemudian ia berbelok
mengambil jalan di jajaran meja di belakang deretan komputer. Kemudian
menghilang di balik benda elektronik itu. Aku tahu ia duduk disana, akan
menulis.
Hari ini aku
mendapatkan akun facebook wanita itu dengan nama Nyanyian langit. Bukan dengan
nama aslinya, Sora Hadzika. Entah mengapa hatiku terasa membeku. Lebih dingin
dari biasanya. Ia telah bertunangan dengan seseorang di Indonesia, ku buka akun
lelaki itu dan membaca profilnya pelan-pelan. Tak ingin terlewatkan satupun.
Lelaki itu bernama Muhammad Fahri, seorang mahasiswa jurusan akuntansi di
universitas swasta, berasal dari Surabaya. Tak ada yang istimewa dari lelaki
itu, menurutku. Oke, salah satu yang bisa membuat seseorang istimewa di nilai
dari akun Facebooknya adalah; pilihan buku, music, film, kegiatan yang dia
lakukan, tempat ia bekerja atau tulisan-tulisannya. Begitu, kan?? Maka tak
salah jika menurutku lelaki itu biasa-biasa saja, bahkan ia belum bekerja!!
Kemudian aku melanjutkan membaca
quote Sora tentang dirinya, dia hanya menulis singkat, tetapi membuatku
tertegun cukup lama; Aku menitipkan rahasiaku pada langit. Tidak usah mencariku
kemana, karena jika kau mendongak, kau akan menemukanku disana. Sama sepertiku
yang selalu menemukanmu dengan cara yang sama.
*Bersambung :p
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)