Nusantara

Monday, December 30, 2013

Namaku Ambisi

Ketika kau membicarakan gurun
anggap saja aku disana
menemanimu
Mengintip malu di matamu sendiri
Aku bukan oase, asal kau tahu
Aku fatamorgana padang impian

Seperti detak jantungmu
Suaraku menyeruak
Menelikung hatimu begitu saja
Bersama dendang gita yang kau nyanyikan diam-diam
Angin hanya penyampai pesan
Jangan jadikan ia selimut tahta kepala
Musuhmu adalah dirimu sendiri
Karena aku bukan oase, asal kau tahu
Aku fatamorgana padang impian

Jika tiba-tiba kau membenci gurun
Karena angin menerbangkannya satu-satu
Dan waktu menghentakmu kelu
Diam saja.

Bukankah sudah ku katakan?
Kau hanya terlena oleh bara

yang merana
Tak tahu milik siapa

Sunday, November 17, 2013

Ilusi

 
Entah bagaimana lagi aku harus mengutuk malam. Setiap matahari senja yang kuintip di jendela selalu  tenggelam dibalik wohnung itu ketika malam datang, hanya gelap yang ia sisakan. Aku benci menggerutu, bosan mendengar suaraku sendiri yang hanya berisi sumpah serapah. Sebenarnya bukan gelap yang membuatku memisuh, karena gelap bisa menjadi penolongku ketika ia datang. Tetapi malam lah yang patut diumpat, ia menjanjikan ketenangan absurd. Husshh..aku harus diam, bahkan berbicara dalam hatipun tak boleh dilakukan. Dia bisa mendengarku kapan saja.
Klik..
Apa aku bilang, dia mendengar ucapanku! Itu adalah suara pintu yang ia tutup. Dia selalu menutup pintu dengan bunyi klik, dia tak boleh tahu bahwa aku hafal dengan kebiasaannya itu. Bisa bahaya. Kurapatkan selimut yang menutupi tubuh kecilku dan memeluk kakiku sendiri. Walaupun meringkuk dibawah meja belajar ini adalah tempat bersembunyi paling aman,  aku tetap harus hati-hati. Aku bukan bocah bodoh lagi yang menyembulkan kepalanya tiba-tiba untuk mengintip, seperti yang kulakukan kemarin saat bersembunyi di bawah tangga.
Oh tidak, aku tidak boleh ingat kejadian itu! Pisau itu mengerikan! Ada darah menetes-netes di ujungnya. Merah dimana-mana..dan dia melangkahkan kakinya pelan-pelan sambil terus mencariku. Dasar bodoh! Kenapa kemarin aku menyembulkan kepala dan membuat suara berisik?? Kemarin dia menoleh ke arah tangga dan membuatku menggigil sampai terkencing saat melihat mata merah mengerikan miliknya dibalik tudung hitamnya itu. Mata yang siap membunuhku kapan saja. Bodoh! Aku tidak boleh membuatnya menoleh lagi dan melihat mata itu. Apapun yang ku lakukan Jeane tidak boleh menemukanku! Dasar bodoh ! mengapa aku harus menyebut namanya? Ia bisa mendengar! Bodoh..! Bodoooh..!!
Srekk..
Aku terkesiap dan menghentikan gerakan tanganku yang memukuli kepala tanpa sadar. Keringat dinginku menetes, perutku mulas. Selimut yang menutupi seluruh tubuhku terasa makin panas, aku bisa mrasakan keringat mengalir dipunggungku. Apa yang harus ku lakukan? Aku telah berbuat bodoh lagi dengan memukuli kepala karena merasa bodoh. Jeane pasti mendengar dan melihat gerakanku itu. Oh tidak..aku menyebut namanya lagi!
Sekarang aku mendengar suara langkah kaki. Itu kakinya! Aku yakin itu langkah kaki miliknya yang semakin mendekat! Apa yang harus aku lakukan?? Keringatku makin banyak, perutku makin mulas dan aku merasa ingin kencing lagi. Bayangan pisau bersimbah darah itu makin jelas! Apa yang harus aku lakukan??! Aku tidak mau mati!!

Tuesday, August 13, 2013

Tentara Allah


Sejak kecil aku memang gampang bosan dan menyukai perubahan. Bagiku yang masih menginjak 7 tahun, aku sudah mengerti bahwa perubahan adalah nafas hidup. Yang diam memang belum tentu mati, tetapi mereka yang memilih diam saja, tidak bergerak, tidak berfikir, maka ia tak lebih berharga dari pada mayat. Ibuku bilang, kata-kata yang halus selalu diperlukan untuk berbicara, tetapi aku kurang bisa bermetafora. Karena sejatinya begitulah anak kecil, mereka lugu dan jujur. Tidak usah berpuisi untuk menyatakan maksud, karena malu menyampaikan kebenaran adalah perbuatan memalukan itu sendiri.
Oh, tetapi hari ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang jujur atau tidak. Aku sedang ingin berbicara tentang kecintaanku pada gerak. Seperti aliran air yang memiliki tujuan pasti, jernih memercik sambil terus berlalu tanpa lupa meninggalkan pesona kesejukan. Juga ombak yang seolah hilang ditelan pantai, tetapi tidak, ia hanya mundur sebentar untuk kemudian datang lagi. Aku juga menyukai suara kepakan burung, atau gerakan awan yang gemar berubah bentuk. Ah, ternyata terkadang aku juga suka bermetafora.
 Aku mencintai gerak dan aku paling suka berlari. Suara hentakan kakiku menginjak tanah, derakan kerikil, desingan angin di telinga, juga degupan jantung yang terdengar kuat ketika aku berhenti. Menakjubkan..! apalagi ketika aku berlari dibawah guyuran hujan. Bisakah kalian bayangkan  betapa indahnya suara-suara yang muncul saat itu? Teriakan ceria teman-temanku di bawah hujan dan tawa mereka yang keras, dengan mulut terbuka lebar dan gigi yang tak rapat. Ditambah suara deras hujan yang berbaur cipratan air bercampur lumpur dibawah hentakan kaki kami. Rasanya tersenyum saja tak cukup.
Aku menyukai hujan. Ketika aku lelah berlari, maka yang kulakukan adalah berdiri merentangkan tangan lebar-lebar, kupejamkan mata dan menengadahkan wajah ke langit, merasakan tiap-tiap tetes air yang menyentuh kulitku. Dingin memasuki tiap pori-poriku, tapi setelah itu aku merasakan kehangatan ditiap aliran darahku, menentramkan hati, dan membuatku selalu bisa tersenyum. Aku merasa menyatu dengan sekitar, seolah aku adalah mereka, aku adalah alam dan semesta.
Tahukah kamu mengapa aku begitu terpesona pada hujan?? Tidak hanya itu, aku juga tak takut. Apa yang perlu ditakutkan dari ribuan titik-titik air yang jatuh beribu kilometer dari langit? Oh bukan, bukan dari langit, tetapi dari awan yang berbaik hati. Mengapa? Karena ia mau mengembalikan lagi air yang dipinjamkan oleh bumi, begitu kakakku bilang.
Tetapi sebenarnya aku tak hanya terpesona pada hujan, seperti yang telah aku ceritakan diawal, aku mencintai gerak. Maka semua yang ada di alam semesta membuatku terkagum. Kalian pasti akan bertanya, “bagaimana dengan batu?? Bukankah dia hanya diam saja?”
Baiklah, aku akan menjawabnya dan menceritakan sebuah rahasia yang tak akan kalian lupa..

Thursday, July 11, 2013

Memori

Melihat nanar pada buram hayal
beralih pekat tinggalkan hilang
meramu tanya dan juga pikat
siapa dia?? tanya lalu bernama ragu
gelora berbenih satu-satu

Ingat meraja dinyata malam
memudar bayang memaksa dera
waktu tidak berpihak,
ia tertawa seringai malaikat
"bukan !" bijak berseru
hanya pilinan emosi menderu biru
menjamu angan
cabiki nalar
pergi saja bersama angin,
sebelum senja hantar kelam

Ternyata pagi diam saja..
tak melirik bulir diam di pipi peri sepi
menjauh, ia mengejar
mendekat, ia asing
"berikan saja pada tanya", ujar bijak
Lalu mengurai bias-bias..

Thursday, June 27, 2013

Fatamorgana

Pasir menengadah camar
Jauh dan acuh
Seperti ombak bertamu pantai
Fatamorgana
Laut bukan milik siapa-siapa
Bahkan pengelana bernama rasa
Begitu juga kau
Pergi pulang suka-suka
Setelah melukis diatas pasir